Chapitre 1: First TracesCHAPITRE I - Première Trace

Ce chapitre n'est pas encore disponible en French. Connectez-vous pour le traduire et le rendre accessible à tous.

Pukul 08.15.

Sebuah apartemen di pusat kota Bangkok mulai dipenuhi petugas kepolisian. Garis pembatas terpasang di depan salah satu unit, sementara beberapa anggota tim identifikasi sibuk mendokumentasikan kondisi ruangan.

Di dalam apartemen, seorang perempuan terbaring tak bernyawa.

Namanya Nalin. Usianya tiga puluh tahun. Ia bekerja di sebuah perusahaan swasta dan tinggal seorang diri.

Tubuhnya ditemukan oleh seorang teman yang datang berkunjung pagi itu. Setelah beberapa kali mencoba menghubungi Nalin tanpa mendapat jawaban, temannya meminta bantuan petugas keamanan untuk membuka pintu apartemen.

Saat ini, polisi masih mengumpulkan informasi mengenai kejadian tersebut. Belum ada kesimpulan mengenai penyebab maupun cara kematian korban.

Beberapa petugas sedang memeriksa area ruang tengah ketika suara kendaraan berhenti di depan gedung. Tidak lama kemudian, seorang perempuan turun sambil membawa tas selempang dan koper kecil.

Ia mengenakan kemeja kasual, celana panjang, serta sepatu sneakers. Penampilannya lebih menyerupai seseorang yang baru tiba dari perjalanan jauh daripada tenaga medis yang hendak menangani kasus kematian.

Perempuan itu memeriksa alamat di ponselnya sebelum berjalan menuju pintu masuk.

Namanya Earth Rattanakul.

Ia baru saja tiba di Bangkok setelah menyelesaikan masa pelatihan spesialisasi kedokteran forensik. Rencananya, ia akan pulang terlebih dahulu sebelum menemui neneknya. Namun, panggilan dari rumah sakit mengubah rencana tersebut.

Begitu menerima penugasan, Earth langsung menuju lokasi.

Saat tiba di gedung apartemen, ia berjalan menuju area yang sudah dipasangi garis pembatas. Seorang petugas yang berjaga segera mengangkat tangan untuk menghentikannya.

Earth berhenti sebentar. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, ia mengeluarkan kartu identitas profesinya dari tas dan menunjukkannya kepada petugas.

Petugas memeriksa kartu tersebut, lalu sedikit bergeser untuk memberi jalan.

Earth mengambil kembali identitasnya dan langsung melewati garis pembatas menuju TKP.


Di dalam apartemen, Earth menemui petugas yang bertanggung jawab atas pemeriksaan tempat kejadian perkara. Setelah memperkenalkan diri dan menerima penjelasan singkat mengenai kronologi penemuan korban, ia mulai mempersiapkan pemeriksaan.

Ia terlebih dahulu memperhatikan kondisi ruangan dan memastikan dokumentasi awal telah dilakukan. Setelah itu, barulah ia mendekati jenazah.

Ekspresinya berubah serius.

Earth melakukan pemeriksaan luar awal, memperhatikan kondisi tubuh, pakaian, serta tanda-tanda yang perlu dicatat. Setiap temuan didokumentasikan dan dikoordinasikan dengan petugas yang menangani olah TKP.

Sesekali ia meminta pengambilan foto dari sudut tertentu atau menanyakan informasi mengenai posisi korban saat pertama kali ditemukan.

Pemeriksaan berlangsung tanpa banyak percakapan.

Setelah selesai, Earth membahas proses pemindahan jenazah ke rumah sakit untuk pemeriksaan lanjutan. Ia juga memastikan catatan dan dokumentasi dari lokasi diserahkan kepada tim yang berkepentingan.

Beberapa waktu kemudian, jenazah dibawa ke rumah sakit.

Earth mengikuti proses tersebut setelah memastikan tidak ada lagi pemeriksaan awal yang perlu dilakukan di lokasi.


Di tempat lain, Dao Chantarangsi masih berada di rumah sakit. Ia duduk di ruang kerjanya dengan jas putih yang dikenakannya sejak pagi. Beberapa berkas terbuka di atas meja ketika ponselnya berdering.

Nama seorang penyidik muncul di layar. Mereka pernah beberapa kali bekerja sama dalam penanganan kasus sebelumnya.

Dao mengangkat panggilan.

“Selamat siang, Dokter Dao. Apakah sedang ada waktu?”

Dao meletakkan pena di atas meja.

“Silakan. Ada apa?”

“Kami sedang menangani kasus kematian seorang perempuan. Ditemukan di apartemennya pagi tadi.”

“Pemeriksaan forensiknya sudah dilakukan?”

“Masih berlangsung. Tapi ada beberapa informasi mengenai kehidupan pribadi korban yang ingin kami telusuri lebih jauh.”

Dao membuka laci meja dan mengambil buku catatan.

“Informasi seperti apa?”

“Teman dekatnya menyebut korban belakangan ini mengalami masalah dengan pasangannya. Bahkan, beberapa waktu terakhir dia mulai menjauh dari orang-orang terdekatnya.”

“Apakah temannya sudah memberikan keterangan?”

“Sedang kami mintai keterangan. Saya pikir akan lebih baik kalau Dokter ikut melihat kasus ini sejak awal.”

Dao terdiam sejenak.

“Baik. Kirimkan informasi awal dan berkas yang sudah tersedia. Saya akan mempelajarinya.”

“Kalau begitu, apakah Dokter bisa datang ke kantor sore ini?”

“Saya akan mengatur waktunya.”

“Terima kasih, Dokter.”

Panggilan berakhir.

Tidak lama kemudian, sebuah berkas masuk ke ponselnya. Dao membukanya dan mulai membaca informasi mengenai korban.

Nama: Nalin.

Usia: 30 tahun.

Pekerjaan: karyawan perusahaan swasta.

Status hubungan: memiliki pasangan.

Informasi yang tersedia masih terbatas. Belum ada riwayat psikologis maupun keterangan lengkap mengenai hubungan korban dengan orang-orang di sekitarnya.

Dao membaca setiap halaman dengan teliti. Ia tidak ingin membuat penilaian hanya berdasarkan dugaan awal atau informasi yang belum terverifikasi.

Setelah selesai, ia menutup berkas dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


Pemeriksaan lanjutan terhadap jenazah dilakukan di rumah sakit.

Earth berada di ruang pemeriksaan bersama anggota tim yang bertugas. Ia memeriksa kembali dokumentasi dari lokasi, memastikan seluruh temuan tercatat dengan benar, kemudian melanjutkan pemeriksaan sesuai prosedur.

Pekerjaan itu memakan waktu lebih lama dari yang ia perkirakan.

Ketika akhirnya keluar dari ruang pemeriksaan, Earth melepas perlengkapan pelindung dan mencuci tangannya. Ia mengambil ponsel dari loker dan menemukan beberapa pesan masuk.

Salah satunya dari neneknya.

A-Ma: Sudah sampai Bangkok?

Earth langsung mengetik balasan.

Earth: Sudah, A-Ma. Tapi ada pekerjaan mendadak.

Balasan datang tidak lama kemudian.

A-Ma: Kamu belum pulang?

Earth: Belum. Langsung ke lokasi kasus.

A-Ma: Sudah makan?

Earth tersenyum kecil.

Earth: Belum.

A-Ma: Nanti makan dulu sebelum pulang.

Earth menggeleng pelan membaca pesan itu.

Earth: Iya, A-Ma.

Ia menyimpan ponselnya, lalu berjalan menuju ruang dokter.

Belum sempat duduk, seorang staf rumah sakit menghampirinya.

“Dokter Earth, ada seseorang dari kepolisian yang ingin bertemu.”

Earth menoleh.

“Sekarang?”

“Iya. Katanya ingin berkoordinasi mengenai kasus Nalin.”

Earth mengambil berkas pemeriksaannya.

“Baik. Saya ke sana.”


Di ruang konsultasi, seorang penyidik duduk bersama seorang perempuan yang belum pernah Earth temui sebelumnya.

Perempuan itu mengenakan jas putih dengan rambut tertata rapi. Wajahnya tenang, nyaris tanpa ekspresi. Ia sedang membaca beberapa lembar dokumen ketika Earth masuk.

“Dokter Earth,” sapa penyidik tersebut.

Earth mengangguk.

“Selamat siang.”

“Perkenalkan, ini Dokter Dao Chantarangsi. Beliau membantu kami dalam analisis psikologis korban.”

Perempuan itu mengangkat pandangan.

“Dao Chantarangsi.”

“Earth Rattanakul.”

Mereka berjabat tangan singkat, lalu kembali duduk.

Dao membuka berkasnya.

“Saya ingin mengetahui perkembangan pemeriksaan forensik. Apakah sudah ada hasil yang bisa disampaikan?”

“Pemeriksaan masih berlangsung. Untuk hasil lengkap, saya perlu menyelesaikan beberapa tahapan terlebih dahulu.”

“Baik.”

Dao tidak mendesak. Ia kemudian menjelaskan bahwa kepolisian sedang mengumpulkan informasi mengenai latar belakang korban, termasuk hubungan pribadi dan perubahan perilakunya sebelum meninggal.

Earth mendengarkan sambil membuka catatan.

“Kalau ada informasi mengenai riwayat kesehatan atau obat yang dikonsumsi korban, saya juga perlu mengetahuinya,” ujar Earth.

“Kami sedang mengumpulkan informasi tersebut,” jawab penyidik.

Dao menambahkan, “Saya akan meminta keterangan dari orang-orang terdekatnya. Jika ada informasi yang berkaitan dengan pemeriksaan medis, akan kami sampaikan.”

Earth mengangguk.

“Baik.”

Penyidik kemudian membahas beberapa hal teknis mengenai koordinasi laporan dan pemeriksaan lanjutan. Setelah semuanya selesai, pertemuan itu pun berakhir.

Dao berdiri lebih dahulu.

“Terima kasih atas waktunya, Dokter.”

Earth mengangguk.

“Sama-sama.”

Dao berjalan keluar bersama penyidik.

Earth memperhatikan perempuan itu sebentar sebelum kembali melihat berkasnya.

Sangat serius, pikirnya.

Namun, ia tidak terlalu memikirkannya. Mereka baru saja bertemu dan belum memiliki urusan lain selain kasus tersebut.


Sore itu, Pimchanok duduk di ruang pemeriksaan kantor kepolisian.

Sejak pagi, pikirannya masih dipenuhi kejadian di apartemen Nalin. Ia sudah berusaha menenangkan diri, tetapi setiap kali mengingat sahabatnya, dadanya kembali terasa sesak.

Dao duduk di hadapannya bersama seorang penyidik.

“Terima kasih sudah datang,” ujar Dao.

Pimchanok mengangguk pelan.

Dao membuka berkas.

“Saya ingin mendengar cerita Anda tentang Nalin. Mulai dari hubungan kalian sampai hal-hal yang mungkin berubah dalam kehidupannya belakangan ini.”

Pimchanok menarik napas panjang.

“Kami sudah berteman sejak kuliah. Sudah lama sekali.”

“Kalian masih sering bertemu?”

“Dulu hampir setiap hari. Belakangan ini agak sulit.”

“Kenapa?”

Pimchanok memainkan ujung lengan bajunya.

“Nalin sering membatalkan janji. Kalau saya ajak keluar, kadang dia bilang sibuk. Kadang juga tidak memberikan alasan.”

“Apakah Anda pernah menanyakan hal itu?”

“Pernah. Tapi dia selalu bilang tidak ada apa-apa.”

Dao menunggu sejenak.

“Menurut Anda, ada sesuatu yang sedang dia hadapi?”

Pimchanok mengangguk pelan.

“Saya rasa ada hubungannya dengan pacarnya.”

Dao mengangkat pandangan dari catatan.

“Hubungan mereka bermasalah?”

“Kalau dilihat dari luar, tidak. Laki-laki itu selalu terlihat baik. Sering mengantar Nalin, menjemputnya setelah bekerja, bahkan beberapa kali ikut berkumpul dengan teman-temannya.”

“Lalu, apa yang membuat Anda merasa ada masalah?”

Pimchanok terdiam sebentar.

“Dia terlalu mengatur Nalin.”

“Bisa Anda ceritakan contohnya?”

“Kalau Nalin tidak membalas pesan, dia akan menelepon berkali-kali. Kalau Nalin pergi bersama saya, dia harus tahu kami ke mana dan pulang jam berapa.”

Pimchanok menghela napas.

“Awalnya saya pikir dia cuma perhatian. Tapi lama-lama Nalin jadi sering membatalkan rencana karena pacarnya tidak suka.”

“Apakah Nalin pernah membicarakan hal itu kepada Anda?”

“Pernah. Tapi setiap kali saya bilang itu tidak sehat, dia malah membela laki-laki itu.”

“Bagaimana biasanya dia membelanya?”

Pimchanok menunduk.

“Katanya, pacarnya cuma takut kehilangan dia. Katanya juga, laki-laki itu sebenarnya baik.”

Dao mencatat beberapa hal.

“Apakah Nalin pernah mengatakan ingin mengakhiri hubungan tersebut?”

Pimchanok mengangguk.

“Sekitar dua minggu lalu. Dia bilang ingin bicara sesuatu dengan saya.”

“Apakah kalian sempat bertemu?”

“Tidak. Dia membatalkan janji.”

“Apakah dia menjelaskan alasannya?”

“Katanya ada urusan mendadak.”

Pimchanok berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

“Saya sempat kesal waktu itu. Saya pikir dia lebih memilih pacarnya daripada teman sendiri.”

Dao memperhatikan wajahnya.

“Apakah setelah itu Anda masih berkomunikasi?”

“Masih. Tapi tidak sesering dulu.”

Pimchanok mengusap kedua tangannya.

“Saya tidak tahu kalau ternyata dia sedang mengalami sesuatu seperti ini.”

Dao tidak langsung menjawab.

“Apakah Anda masih menyimpan pesan-pesan terakhir darinya?”

“Masih.”

“Bisa serahkan kepada penyidik? Kami ingin melihat percakapan kalian, terutama yang berkaitan dengan perubahan perilakunya.”

Pimchanok mengangguk.

“Tentu.”

Ia kemudian mengambil ponsel dan mulai mencari percakapan mereka.

Saat membuka pesan-pesan lama, Pimchanok berhenti pada satu percakapan.

“Ini,” katanya pelan.

Dao sedikit mendekat.

“Ada apa?”

Pimchanok membaca pesan itu sekali lagi sebelum menyerahkan ponselnya kepada penyidik.

“Dia pernah bilang ingin pergi sebentar. Katanya ingin menenangkan diri.”

Dao membaca pesan tersebut.

Tidak ada penjelasan panjang. Hanya beberapa kalimat singkat yang sekilas terlihat biasa.

Namun, bagi seseorang yang mengenal Nalin cukup lama, pesan itu terasa berbeda.

“Apakah Anda tahu ke mana dia ingin pergi?”

Pimchanok menggeleng.

“Tidak. Saya pikir dia hanya ingin liburan.”

Dao mengembalikan ponsel itu kepada penyidik.

“Baik. Kami akan memeriksa percakapan tersebut lebih lanjut.”

Pimchanok menunduk. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Seharusnya saya bertanya lebih banyak waktu itu.”

Dao membiarkannya diam sejenak.

“Anda tidak harus menyalahkan diri sendiri karena tidak mengetahui sesuatu yang tidak pernah diceritakan kepada Anda.”

Pimchanok mengusap pipinya.

“Saya cuma berharap dia sempat cerita.”

Dao tidak memberikan jawaban. Ia hanya menutup berkasnya dan memberi waktu kepada Pimchanok untuk menenangkan diri.


Malam mulai turun ketika Earth akhirnya menyelesaikan pekerjaannya di rumah sakit.

Ia duduk sebentar di ruang dokter sambil memeriksa ponsel. Ada pesan baru dari A-Ma.

A-Ma: Kamu jadi pulang malam ini?

Earth: Iya, sebentar lagi.

A-Ma: A-Ma sudah siapkan makan malam.

Earth: Wah, berarti Earth harus cepat pulang.

A-Ma: Jangan ngebut.

Earth tersenyum membaca pesan itu.

Ia memasukkan ponsel ke dalam tas, lalu berdiri. Koper yang dibawanya sejak pagi masih belum dibuka. Sepertinya ia baru bisa membereskan barang-barangnya setelah beristirahat.

Sebelum pulang, Earth memeriksa jadwal pemeriksaan berikutnya. Kasus Nalin belum selesai. Masih ada hasil yang harus ditunggu dan laporan yang perlu disusun.

Sementara itu, Dao kembali membaca catatan wawancara Pimchanok.

Ada beberapa hal yang perlu ditelusuri lebih jauh, terutama mengenai hubungan Nalin dengan pasangannya.

Dao belum ingin menarik kesimpulan. Keterangan seorang teman bisa menjadi petunjuk, tetapi tetap perlu diperiksa bersama informasi lain.

Ia menuliskan beberapa hal yang perlu ditindaklanjuti sebelum menutup berkas.

Hari itu, Dao dan Earth telah bertemu dan saling mengenal nama. Namun, keduanya masih melihat kasus tersebut dari sudut pandang pekerjaan masing-masing.

Earth berusaha memahami kematian Nalin melalui pemeriksaan medis.

Dao berusaha memahami kehidupan Nalin melalui cerita orang-orang yang mengenalnya.

Mereka belum tahu bahwa semakin jauh penyelidikan berjalan, semakin banyak hal yang akan menghubungkan keduanya.

Dan Nalin, yang selama ini terlihat menjalani kehidupan biasa, ternyata menyimpan cerita yang belum sempat ia sampaikan kepada siapa pun.

Mode privé : appuyez sur un paragraphe pour indiquer à l'auteur où vous vous êtes ennuyé(e), perdu(e) ou accroché(e). Seul l'auteur verra ces notes.

Qu'en avez-vous pensé ?

Connectez-vous pour encourager

Comment était ce chapitre ?

Se connecter pour écrire un avis également.

Avis

Aucun avis pour l'instant. Soyez le premier.