The Earth Knows Our Names
BerlanjutPenulis
Auroch MinesSebuah antologi cerita orisinal yang mengangkat tema kepedulian terhadap ekologi dan harapan. Kisah-kisah ini mengajukan pertanyaan mendesak: Kepada siapa kita sesungguhnya milik? Apa yang kita utangkan kepada tanah yang kita pijak? Dan bagaimana harapan bisa bertahan ketika segala yang akrab perlahan-lahan menghilang? Mereka mengajak pembaca untuk melambat dan menyadari bahwa upaya menyembuhkan Bumi tak terpisahkan dari upaya menyembuhkan diri kita sendiri. Semoga, pada akhirnya kamu akan pelan-pelan meyakini bahwa masa depan masih milik mereka yang mau merawatnya dengan tangan terbuka dan hati yang tak berjaga.

Volume pertama dari antologi berisi 17 kisah orisinal, mengangkat tema kepedulian terhadap alam dan harapan. Kisah-kisah ini mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendesak: Kepada siapa kita sesungguhnya menjadi milik? Apa yang kita utangkan kepada tanah yang kita pijak? Dan bagaimana harapan bertahan ketika segala yang akrab perlahan-lahan menghilang? Pembaca diajak untuk melambat dan menyadari bahwa pekerjaan menyembuhkan bumi tidak bisa dipisahkan dari pekerjaan menyembuhkan diri sendiri. Semoga, Anda akan menutup buku ini dengan keyakinan yang diam-diam tumbuh — bahwa masa depan masih milik mereka yang bersedia merawatnya dengan tangan terbuka dan hati yang tak berpagar.

Ini adalah volume kedua dari antologi berisi 17 kisah orisinal karya seorang pendongeng Kenya. Merangkul tema-tema pengelolaan ekologi, harapan, dan pembaruan, kisah-kisah ini mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendesak: Kepada siapa kita sejatinya milik? Apa yang kita utangkan kepada tanah di bawah kaki kita? Dan bagaimana harapan bisa bertahan ketika semua yang akrab perlahan-lahan menghilang?
Dengan menghuni ruang sunyi yang sarat makna — tempat di mana ingatan, tanah, dan ketangguhan manusia bertemu — kisah-kisah ini menyiratkan bahwa perubahan sejati dimulai dari ruang-ruang pribadi yang tak dipandang siapa pun.
Para pembaca diajak untuk melambat dan merasakan bobot dari apa yang sedang hilang, untuk menyadari bahwa kerja menyembuhkan Bumi tak terpisahkan dari kerja menyembuhkan diri sendiri — bahwa pengelolaan alam, pada tingkatnya yang paling dalam, bukanlah kewajiban, melainkan cinta yang menjelma nyata. Semoga, setelah membaca, kamu akan sampai pada keyakinan yang tenang: bahwa masa depan masih milik mereka yang rela merawatnya dengan tangan terbuka dan hati yang tak terjaga.