2 baca
Mereka bilang tempat seorang perempuan tak pernah ada di atas kanvas berlumur darah. Ia datang untuk membuktikan bahwa kanvas itu berdarah sama saja."
>
Baginya, arena bawah tanah bukan sekadar cara bertahan hidup—melainkan obsesi warisan seorang ayah yang melatihnya untuk sebuah dunia yang melarang keberadaannya. Ketika penyakit pernapasan parah menyerang sang ayah, sindikat pertarungan bertaruhan tinggi itu menjadi satu-satunya harapannya untuk mendapatkan uang penyelamat nyawa.
Dengan identitas palsu dari pasar gelap dan seorang saudara laki-laki rekaan, ia melangkah ke arena yang brutal dengan menyamar sebagai laki-laki. Ia bertarung, ia menang, dan uang pun mengalir. Namun dominasi mengundang tatapan, dan ketika topengnya akhirnya tersingkap di tengah kanvas, aturan dunia bawah tanah akan runtuh selamanya.