Ceritakan sedikit tentang dirimu kepada pembaca.
Saya Obinna D. Ugoeke, seorang penulis Nigeria yang tertarik pada sifat manusia, hubungan, masyarakat, dan kekuatan tersembunyi yang membentuk pilihan kita. Saya tertarik pada hal-hal yang sering diabaikan orang, asumsi yang jarang mereka pertanyakan, dan kebenaran yang hanya menjadi jelas ketika kita melihat situasi yang akrab dengan cara yang berbeda.
Di mana kamu biasa menulis, dan seperti apa tempat itu?
Tulisan saya tumbuh dari kebiasaan panjang mengamati orang, mempertanyakan ide-ide yang familiar, dan merenungkan pengalaman sehari-hari. Saya tertarik pada momen ketika situasi biasa mengungkapkan sesuatu yang tidak terduga tentang sifat manusia. Rasa ingin tahu itu terus memberi saya alasan untuk menulis.
Seperti apa kesuksesan bagimu?
Kesuksesan berarti menjangkau pembaca yang menemukan sesuatu yang bermakna dalam karya saya, terutama perspektif yang mengubah cara mereka memahami situasi yang familiar. Saya juga ingin tulisan saya membangun masa depan profesional yang berkelanjutan, memungkinkan saya terus berkreasi, menerbitkan, dan menjangkau pembaca di luar lingkungan langsung saya.
Bagaimana kamu mendeskripsikan buku terbarumu kepada seseorang yang belum pernah mendengarnya?
*The Things We Never Saw* adalah kumpulan sepuluh cerita reflektif tentang sifat manusia, hubungan, masyarakat, dan kebenaran yang sering kita gagal mengenali sampai konsekuensinya menjadi mustahil diabaikan. Setiap cerita menggali di balik situasi yang akrab untuk menemukan motif tersembunyi, asumsi yang tidak nyaman, dan pilihan yang membentuk kehidupan kita. Kumpulan ini mengundang pembaca untuk melihat lagi apa yang mereka pikir mereka pahami—dan mungkin menemukan sesuatu yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
Apakah cerita ini bermula dari sebuah gambaran, suara, ide, atau permasalahan?
Dimulai dengan sebuah ide: bahwa kebenaran paling penting dalam hidup kita sering tersembunyi dalam situasi biasa, hubungan yang akrab, dan asumsi yang jarang kita pertanyakan. Saya ingin mengeksplorasi apa yang terjadi ketika orang gagal melihat apa yang ada di depan mereka—dan bagaimana kebenaran yang terabaikan itu dapat membentuk pilihan, hubungan, dan takdir mereka. Setiap cerita tumbuh dari rasa ingin tahu sentral tentang sifat manusia dan hal-hal yang kita pahami hanya ketika kita melihat melampaui yang jelas.
Apakah kamu menyembunyikan rahasia dalam bukumu yang hanya akan diketahui sebagian kecil pembaca?
Ya, meskipun tidak selalu dalam bentuk petunjuk yang jelas atau pesan tersembunyi. Beberapa rahasia terletak pada detail, pilihan karakter, hal-hal yang tidak diucapkan, dan kontradiksi antara apa yang dipercaya orang tentang diri mereka sendiri dan apa yang diungkapkan tindakan mereka. Pembaca yang cermat mungkin menemukan bahwa detail yang tampak kecil membawa makna yang lebih dalam, atau bahwa subjek sebenarnya dari cerita berbeda dari apa yang awalnya tampak. Saya menikmati meninggalkan ruang bagi pembaca untuk menemukan makna di luar permukaan, bahkan yang mungkin tidak saya antisipasi secara sadar saat menulis.
Apakah kamu merencanakan segalanya terlebih dahulu, atau menemukan cerita seiring menulis?
Saya biasanya mulai dengan pengamatan, pertanyaan, atau kontradiksi daripada cetak biru yang kaku. Saya membutuhkan sense of direction, tetapi saya juga menginginkan ruang untuk penemuan. Kadang bagian paling mengungkapkan dari cerita muncul ketika saya mengikuti ide melampaui asumsi awal saya.
Apa yang kamu lakukan saat mentok?
Ketika saya terjebak, saya kembali ke pertanyaan sentral dan memeriksa asumsi yang mungkin telah saya terima terlalu cepat. Saya bertanya apakah saya telah mengabaikan motif, perspektif, atau konsekuensi lain. Kadang jalan ke depan bukan menambah lebih banyak kata tetapi mempertimbangkan kembali ide di baliknya.
Seberapa banyak riset yang masuk ke dalam bukumu?
Jumlah penelitian tergantung pada ceritanya. Tulisan saya didorong lebih oleh pengamatan perilaku manusia, mempertanyakan asumsi yang akrab, dan memeriksa kekuatan sosial dan emosional di balik pilihan orang daripada world-building faktual yang ekstensif. Ketika cerita melibatkan klaim, subjek yang tidak akrab, atau detail dunia nyata yang penting untuk kredibilitas, penelitian dan cross-checking menjadi penting. Pada akhirnya, saya ingin setiap cerita terasa dapat dipercaya—bukan hanya karena detailnya akurat, tetapi karena penggambaran sifat manusianya terdengar benar.
Deskripsikan tulisanmu dalam tiga kata.
Observan. Menantang. Thought-provoking
Bagaimana merilis cerita bab per bab memengaruhi cara kamu menulisnya?
Merilis cerita bab demi bab mendorong saya untuk berpikir hati-hati tentang pacing, antisipasi, dan apa yang tersisa oleh setiap bagian dalam pikiran pembaca. Setiap bab harus menawarkan sesuatu yang bermakna sambil menciptakan cukup rasa ingin tahu untuk membuat yang berikutnya layak dibaca. Ini juga mengubah hubungan antara penulis dan audiens: cerita berkembang secara publik, memberi pembaca kesempatan untuk merenungkan dan merespons saat berkembang. Namun untuk saya, cerita yang lebih besar masih harus bersatu sebagai karya yang lengkap, dengan setiap bagian berkontribusi pada makna yang lebih dalamnya.
Mengapa kamu memilih cara menerbitkan seperti yang kamu lakukan?
Saya memilih pendekatan ini karena saya ingin cerita saya menjangkau pembaca di luar lingkungan langsung saya tanpa menunggu peluang penerbitan tradisional. Penerbitan digital memberi saya cara langsung untuk berbagi karya saya, membangun pembaca, dan belajar bagaimana orang merespons ide yang saya jelajahi. Ini juga memungkinkan saya bereksperimen dengan cerita dan format berbeda sambil mempertahankan sense of authorship yang jelas. Pada akhirnya, penerbitan bukan hanya tentang membuat karya saya tersedia; ini adalah tentang menciptakan koneksi bermakna antara cerita yang saya ceritakan dan orang-orang yang membacanya.
Di mana AI berperan dalam prosesmu, dan di mana tidak?
AI dapat membantu saya mengembangkan ide, mengeksplorasi perspektif alternatif, menyempurnakan bahasa, dan memeriksa bagaimana cerita mengkomunikasikan pesannya. Namun, tanggung jawab atas karya harus tetap pada saya. Saya memutuskan apa yang harus dijelajahi cerita, ide mana yang layak bertahan, apa yang terasa jujur secara emosional, dan apa yang harus ditinggalkan pembaca untuk dipertimbangkan. AI dapat menjadi instrumen kreatif yang berguna, tetapi tidak dapat menggantikan penilaian saya, pengamatan saya tentang sifat manusia, atau tanggung jawab saya atas apa yang saya terbitkan. Tujuan saya adalah terus memperkuat suara dan kemandirian kreatif saya sendiri sambil menggunakan alat dengan sengaja daripada membiarkan mereka mendikte karya.
Penulis mana yang membentuk cara kamu menulis?
Pendekatan saya telah dibentuk oleh minat luas pada ide, perilaku manusia, dan kekuatan bercerita untuk menantang asumsi yang akrab. Saya terutama tertarik pada tulisan yang mengungkapkan sesuatu di balik yang jelas dan meninggalkan pembaca mempertimbangkan kembali apa yang mereka pikir mereka pahami. Pengamatan dan refleksi tetap menjadi pengaruh penting pada suara saya sendiri.
Apa arti "menjadi penulis" bagimu saat menulis dengan AI?
Menjadi penulis berarti mengambil tanggung jawab atas karya melampaui sekadar menghasilkan kata-katanya. Ini berarti memiliki ide sentral, membuat keputusan kreatif, mempertanyakan apa yang dikatakan karya, menilai apa yang termasuk dan apa yang tidak, dan berdiri di belakang karya yang selesai. Ketika saya menggunakan AI, saya melihatnya sebagai alat yang dapat membantu mengeksplorasi kemungkinan, tetapi alat tidak boleh menjadi otoritas atas cerita. Kepengarangan, bagi saya, pada akhirnya tentang penilaian kreatif, niat, dan akuntabilitas—bukan hanya siapa atau apa yang membantu mengatur kalimat.
