Rozdział 1: Cincin Perunggu Kusam

Ten rozdział nie jest jeszcze dostępny w języku Polish. Zaloguj się, aby go przetłumaczyć i udostępnić wszystkim.

“Sales macam apa kamu ini, Rizal?” bentak seorang pria sambil melempar beberapa lembar dokumen ke arah Rizal hingga semua kertas itu berserakan ke lantai. “Bisa kerja enggak sih kamu ini?”

Rizal berdiri membeku di sebuah ruangan kecil. Di hadapannya, Pak Hadi sudah bersiap-siap untuk melayangkan makian berikutnya. Orang-orang di luar ruangan tak ada yang berani bersuara. Mereka semua menunduk, beberapa menahan napas membayangkan wajah Pak Hadi, team leader divisi sales yang memerah menahan amarahnya.

“Maafkan saya, Pak.”

Hanya kata itu yang dapat terucap dari bibir Rizal yang mulai bergetar. Ia menunduk dalam-dalam. Kemejanya yang berwarna putih mulai kusam, kini sedikit basah oleh keringat dingin yang mulai membasahi tubuhnya.

“Kamu pikir dengan maaf saja targetmu bisa tercapai?” bentaknya lagi. Kini suara Hadi malah makin meninggi.

Kini Rizal tak berani mengatakan apa-apa lagi. Ia tertunduk dalam-dalam. Dalam benaknya terbayang-bayang pikiran apa yang salah pada strateginya. Ia sudah bekerja lebih keras dari orang lain. Bahkan ketika orang lain telah lebih dulu pulang, dia masih di kantor agar dapat mengejar target setiap bulannya.

Tapi kenyataan begitu pahit. Dalam enam bulan terakhir, jangankan bonus, target saja ia kesulitan untuk mencapainya, membuatnya setiap bulan hanya membawa pulang gaji pokoknya yang kecil. Tidak hanya itu, Rizal juga khawatir pada kontraknya yang akan berakhir bulan depan.

“Sekarang keluar! Pastikan ada perubahan sampai akhir bulan yang hanya tinggal beberapa hari lagi.”

Dengan satu kalimat terakhir dari Hadi, Rizal berbalik. Ia keluar dari ruangan Pak Hadi dengan wajah kaku, menahan malu dan rasa amarah.

Di luar ruangan, beberapa pasang mata menatapnya lekat-lekat. Ada yang merasa kasihan, ada pula yang menatapnya dengan tatapan sinis penuh kebencian.

Sesampainya dia di meja kerjanya, Rizal menyandarkan punggungnya yang masih menegang pada kursi.

Napasnya masih tercekat di tenggorokan mengingat amukan dari team leader yang baru saja menghujaninya.

Tiba-tiba, pekikan suara seorang wanita menggema, memecahkan ketegangan ruangan itu.

“Bisa kerja enggak sih?” cibir wanita itu. Ia kemudian duduk santai di tepi meja Rizal dan menyilangkan kakinya. Gerakan itu membuat rok pendeknya tersingkap, memamerkan keindahan pahanya yang putih mulus dengan sengaja.

“Bisa enggak sih enggak usah ganggu?”

Mendengar jawaban Rizal, wanita itu bangkit dan terkekeh. “Rizal, Rizal,” kini ia melipat kedua tangannya di bawah gundukan bulat dadanya yang besar. “Butuh aku ajarin?”

Pandangan Rizal sekarang berubah tajam menatap wanita itu. Nanda, teman kerja Rizal yang juga bagian dari sales team.

Berbanding terbalik dari Rizal, dalam enam bulan terakhir penjualan Nanda sangat bagus. Bahkan, dia dapat menembus persentase target hingga dua ratus persen, menjadikan dirinya sebagai sales terbaik dalam enam bulan terakhir.

Perkataan Nanda hanya menggoreskan luka baru pada hati Rizal. Belum sempat amarahnya mereda karena makian dari Pak Hadi, kini ledekan dari teman kerjanya itu menambah amarah baru yang membakar dadanya.

Melihat wajah Rizal yang semakin menegang, Nanda tersenyum kecil. Tanpa kata-kata lagi, ia segera membalikkan badan lalu kembali duduk di meja kerjanya.

Pukul delapan malam.

Rizal masih sibuk pada catatan di layar laptopnya. Sudah tak ada lagi orang di ruangan itu kecuali satpam yang beberapa kali mengingatkan Rizal bahwa dia sudah harus segera pulang.

Keheningan ruangan itu mendadak pecah oleh getaran ponsel Rizal di atas meja. Sebuah notifikasi pesan masuk dari grup WhatsApp divisi sales. Itu dari Nanda.

Nanda mengirimkan foto sebuah cangkir kopi mahal di sebuah kafe mewah, lengkap dengan takarir (caption): "Merayakan penutupan kontrak 200% malam ini! Untung kerja pakai otak, bukan cuma modal lembur sampai tipes."

Beberapa rekan kantor langsung membalas dengan pujian bertubi-tubi, sementara Pak Hadi memberikan emotikon jempol. Rizal menatap layar ponselnya dengan dada yang terasa sesak. Tangannya yang memegang tetikus (mouse) gemetar menahan dongkol. Semua kerja kerasnya selama ini seolah tak kasat mata di mata mereka.

Rizal mematikan ponselnya dengan kasar, lalu menyugar rambutnya yang kusut dengan frustrasi. Pandangannya beralih pada botol air mineralnya yang sudah kosong melongpong—seperti halnya rekening banknya saat ini.

Dengan helaan napas berat, Rizal menutup laptopnya, memasukkannya ke dalam tas ransel yang sudah mulai koyak di bagian sudut, lalu berjalan gontai keluar gedung kantor.

Malam mulai turun perlahan. Seperti biasa, Rizal berjalan kaki pulang dari kantor, menyusuri jalan setapak yang memang terkenal sepi. Namun entah mengapa, malam ini terasa berbeda dari biasanya.

Angin berembus tipis, tetapi dinginnya menusuk hingga ke tulang. Langit tampak lebih gelap dari biasanya, seolah menelan seluruh cahaya yang ada. Lampu-lampu jalan meredup, dan kabut tipis mulai bercampur dengan udara malam yang semakin lama semakin dingin.

Di ujung jalan, Rizal melihat sebuah bayangan samar.

Semakin dekat, sosok itu semakin jelas. Seorang lelaki tua berbaju putih panjang hingga menutupi kakinya berdiri tegap, menatap langit malam. Rambutnya panjang berwarna putih, begitu pula jenggotnya yang terurai hingga ke dada.

Namun anehnya, meskipun usianya terlihat sangat tua, pria itu tampak gagah—tidak rapuh seperti kebanyakan orang tua pada umumnya.

Rizal berhenti sekitar sepuluh meter darinya, memperhatikan dengan penuh rasa penasaran. Seolah merasakan tatapan Rizal, lelaki tua itu perlahan menoleh.

Kini matanya menatap lurus ke arah Rizal.

"Hai, Nak. Kemarilah."

Suaranya berat dan dalam, memecah keheningan malam yang sunyi.

Tanpa disadari Rizal, kakinya mulai melangkah mendekat. Seolah ada sesuatu yang menariknya. Anehnya, tak ada rasa takut sedikit pun di dalam benak Rizal. Tubuhnya terasa begitu ringan, seakan-akan angin malam ikut mendorong langkahnya menuju pria misterius itu.

"Wahai anakku, bagaimana bisa hidupmu berantakan seperti ini?" ucap pria tua itu ketika jarak mereka semakin dekat.

Pria tua itu menepuk pundak Rizal dengan lembut. Saat itulah Rizal baru menyadari sesuatu—postur tubuh pria itu sangat tinggi, bahkan jauh lebih tinggi darinya yang tingginya hampir 180 senti.

Mendengar ucapan tersebut membuat Rizal menoleh dan mencoba menatap wajahnya dengan jelas. Namun anehnya, meski jarak mereka begitu dekat, wajah pria tua itu tetap tampak samar, seolah tertutup bayangan yang tak kasat mata.

Perlahan, tangannya berpindah dan menggenggam telapak tangan Rizal. Sentuhannya terasa dingin—bahkan lebih dingin dari udara malam yang menusuk.

Namun pria itu tidak sekadar menggenggam tangan Rizal. Ia menyelipkan sesuatu ke dalam telapak tangan Rizal.

Sebuah cincin.

Rizal menatap benda itu dengan bingung. Di atas telapak tangannya yang dingin tergeletak sebuah cincin berwarna perunggu kusam.

"Pakailah. Maka hidupmu akan berubah."

Suara pria tua itu bergema di telinga Rizal.

Rizal terdim sejenak, mencoba mencerna kata-katanya. Namun ketika ia kembali menoleh ke depan—

Pria tua itu sudah tidak ada. Ia menghilang begitu saja, seolah tak pernah berada di sana.

Dotknij akapit, aby oklaskiwać fragmenty, które pokochałeś.

Co o tym myślisz?

Zaloguj się, aby oklaskiwać

Jak oceniasz ten rozdział?

Zaloguj się aby napisać również recenzję.

Recenzje

Brak recenzji. Bądź pierwszy.